Oleh Dough Hooper (buku : Anda adalah apa yang Anda pikirkan)
Daya yang paling kuat di dunia adalah kasih. Kadang-kadang kekuatannya begitu besar sehingga membuat kita merasa sangat takjub.
Kasih tidak berhubungan dengan waktu, ruang atau tempat. Pada kenyataannya, manifestasi kasih paling besar yang pernah saya saksikan berada dalam lingkungan yang penuh kebencian.
Mereka yang berada dalam keadaan yang tidak bahagia memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menyatakan kasih dibandingkan dengan mereka yang kehidupannya bebas dari masalah. Mungkin inilah hukum Kompensasi.
Pernah sekali saya bicara dengan sekelompok orangtua yang anaknya punya cacat. Pada sore itu seorang ibu mengatakan bahwa pada mulanya dia terus-menerus mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri, " Mengapa ini terjadi terhadap diri saya ?"
Akhirnya jawaban datang kepadanya, "Supaya Anda mengetahui makna kasih yang sesungguhnya." Orang ini mengalami suatu dimensi kasih yang tidak dimiliki oleh kebanyakan dari kita semua.
Sedikit keraguan yang pernah saya miliki mengenai kekuatan kasih tiba-tiba lenyap beberapa tahun yang lalu. Ketika itu saya memberikan ceramah di ruang kelas Penjara San Quentin, dan sebuah perdebatan timbul.
Saya berusaha menanamkan pengertian kepada 75 orang narapidana bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian. Tidak ada seorang pun yang sependapat dengan saya.
Salah seorang narapidana terutama sangat tegas dengan sikapnya yang tidak sependapat. Namanya Norman, dan dia telah menjalani hukuman selama tiga tahun. Istri dan dua orang anaknya tinggal di Seattle, dan dia tidak pernah mendapat surat dari istrinya selama itu.
Dalam masa itu kebencian dan kekesalan Norman kepada istrinya sangat mengganggu pikirannya, dan dia melewatkan hampir seluruh waktunya ketika jaga untuk merencanakan pembunuhan terhadap istrinya setelah dia dibebaskan.
Ketika dia mendengar saya mengatakan bahwa kasih begitu kuat sehingga mengatasi waktu dan ruang dia benar-benar tergelitik.
"Kalau apa yang Anda katakan benar," dia menggeram, "Anda harus bisa menunjukkan kepada saya bagaimana caranya supaya saya mendapat sepucuk surat dari istri saya. Saya tidak pernah mendengar kabar beritanya sejak saya tinggal di sini."
Orang-orang lainnya terdiam, dan Norman menyerigai dengan sinis sekali. Pada waktu itu saya; menyadari bahwa kalau saya ingin pengajaran saya ada artinya bagi para narapidana, saya harus bisa menghadapi tantangan seperti itu.
Walaupun demikian, saya juga mujur karena tahu benar bahwa ajaran saya bebas dari kesalahan kalau dipraktekkan.
"Baiklah, sebelumnya saya akan mengajukan dulu sebuah pertanyaan kepada Anda," saya berkata. "Apakah ada saat ketika Anda dan istri Anda merasa bahagia dan saling mengasihi ?"
Air muka Norman, yang selama ini selalu memancarkan kebencia, seketika berubah. "Ya," jawabnya, "selama beberapa tahun pertama keadaan kami baik, dan keluarga kami merasa bahagia."
"Baiklah," saya berkata. "Kalau Anda mau melakukan tepat seperti yang saya katakan, saya yakin Anda akan menerima sepucuk surat dari dia. Selama dua minggu berikutnya setiap pemikiran Anda harus dipusatkan pada saat-saat bahagia itu. Setiap kali Anda memikirkan istri dan anak-anak Anda, Anda harus memikirkan mereka dengan rasa kasih. Tolaklah setiap godaan untuk memikirkan mereka dengan kebencian atau keinginan membalas dendam."
Norman dengan ogah-ogahan setuju untuk mencoba melakukan eksperimen itu.
Setelah saya kembali mengunjungi rumah penjara ini dua minggu kemudian, saya hampir-hampir tidak mengenali Norman. Dia tampak penuh kedamaian, dan kerutan yang selalu tampak pada wajahnya kini telah lenyap. Dia memegangi sepucuk surat.
Dia mencoba membacakan surat kepada seluruh kelompok, tetapi menjadi terlalu emosional. Dia meminta saya membacakannya, yang saya lakukan dengan susah payah.
Setelah saya selesai membaca, saya meragukan apakah ada mata yang kering di dalam ruangan, termasuk mata saya sendiri. Saya masih ingat surat itu hampir-hampir kata per kata.
"Norman tersayang," surat ini dimulai."Kuharap semoga kau mau memaafkanku karena begitu lama aku tidak menulis surat kepadamu. Hal yang aneh terjadi beberapa hari yang lalu. Aku teringat kepada saat-saat bahagia yang kita rasakan bersama, dan aku dikuasai oleh rasa kasih kepadamu. Aku dan anak-anak menginginkan kau kembali dan kami menanti kedatanganmu."
Belum lama ini saya menerima surat lain dari Don, seorang bekas narapidana yang telah dibesarkan di lingkungan yang penuh kebencian. Dia sekarang sudah bebas selama beberapa tahun dan telah membeli rumah baru bagi keluarganya.
Dia menulis,
"Hanya setelah saya kembali memasuki lingkungan saya yang lama dan mencoba menjalin kembali hubungan dengan orang-orang di sekeliling sayalah perubahan pada diri saya mulai terasa. Saya tidak bisa lagi berhubungan dengan bekas teman-teman saya; kami sudah seperti orang-orang asing. Mereka kembali lagi ke kehidupan penuh kejahatan dan saya kembali kepada keluarga saya.
"Kebencian saya memasukkan saya ke penjara dan lenyapnya kebencian saya menyebabkan saya tetap berada di luar. Aneh sekali bagaimana orang selama hidupnya mencari sesuatu untuk membuat mereka bahagia kalau yang perlu mereka lakukan hanya mengenyahkan perasaan negatif dan mereka menemukan bahwa selama itu kebahagiaan sudah berada di dalam jangkauan mereka.
"Sekarang saya bisa melihat kebencian pada diri orang lain sama seperti Anda melihatnya pada diri saya beberapa tahun yang lalu di dalam lingkungan dinding Penjara Folsom (California) yang dingin itu. Anda benar ketika Anda mengatakan kepada saya bahwa saya harus memaafkan semua orang dan belajar mengasihi supaya bisa mengatasi kebencian saya."
"Kita memiliki Iman, Pengharapan dan Kasih. Dan yang terbesar di antara ketiganya adalah Kasih."
Daya yang paling kuat di dunia adalah kasih. Kadang-kadang kekuatannya begitu besar sehingga membuat kita merasa sangat takjub.
Kasih tidak berhubungan dengan waktu, ruang atau tempat. Pada kenyataannya, manifestasi kasih paling besar yang pernah saya saksikan berada dalam lingkungan yang penuh kebencian.
Mereka yang berada dalam keadaan yang tidak bahagia memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menyatakan kasih dibandingkan dengan mereka yang kehidupannya bebas dari masalah. Mungkin inilah hukum Kompensasi.
Pernah sekali saya bicara dengan sekelompok orangtua yang anaknya punya cacat. Pada sore itu seorang ibu mengatakan bahwa pada mulanya dia terus-menerus mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri, " Mengapa ini terjadi terhadap diri saya ?"
Akhirnya jawaban datang kepadanya, "Supaya Anda mengetahui makna kasih yang sesungguhnya." Orang ini mengalami suatu dimensi kasih yang tidak dimiliki oleh kebanyakan dari kita semua.
Sedikit keraguan yang pernah saya miliki mengenai kekuatan kasih tiba-tiba lenyap beberapa tahun yang lalu. Ketika itu saya memberikan ceramah di ruang kelas Penjara San Quentin, dan sebuah perdebatan timbul.
Saya berusaha menanamkan pengertian kepada 75 orang narapidana bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian. Tidak ada seorang pun yang sependapat dengan saya.
Salah seorang narapidana terutama sangat tegas dengan sikapnya yang tidak sependapat. Namanya Norman, dan dia telah menjalani hukuman selama tiga tahun. Istri dan dua orang anaknya tinggal di Seattle, dan dia tidak pernah mendapat surat dari istrinya selama itu.
Dalam masa itu kebencian dan kekesalan Norman kepada istrinya sangat mengganggu pikirannya, dan dia melewatkan hampir seluruh waktunya ketika jaga untuk merencanakan pembunuhan terhadap istrinya setelah dia dibebaskan.
Ketika dia mendengar saya mengatakan bahwa kasih begitu kuat sehingga mengatasi waktu dan ruang dia benar-benar tergelitik.
"Kalau apa yang Anda katakan benar," dia menggeram, "Anda harus bisa menunjukkan kepada saya bagaimana caranya supaya saya mendapat sepucuk surat dari istri saya. Saya tidak pernah mendengar kabar beritanya sejak saya tinggal di sini."
Orang-orang lainnya terdiam, dan Norman menyerigai dengan sinis sekali. Pada waktu itu saya; menyadari bahwa kalau saya ingin pengajaran saya ada artinya bagi para narapidana, saya harus bisa menghadapi tantangan seperti itu.
Walaupun demikian, saya juga mujur karena tahu benar bahwa ajaran saya bebas dari kesalahan kalau dipraktekkan.
"Baiklah, sebelumnya saya akan mengajukan dulu sebuah pertanyaan kepada Anda," saya berkata. "Apakah ada saat ketika Anda dan istri Anda merasa bahagia dan saling mengasihi ?"
Air muka Norman, yang selama ini selalu memancarkan kebencia, seketika berubah. "Ya," jawabnya, "selama beberapa tahun pertama keadaan kami baik, dan keluarga kami merasa bahagia."
"Baiklah," saya berkata. "Kalau Anda mau melakukan tepat seperti yang saya katakan, saya yakin Anda akan menerima sepucuk surat dari dia. Selama dua minggu berikutnya setiap pemikiran Anda harus dipusatkan pada saat-saat bahagia itu. Setiap kali Anda memikirkan istri dan anak-anak Anda, Anda harus memikirkan mereka dengan rasa kasih. Tolaklah setiap godaan untuk memikirkan mereka dengan kebencian atau keinginan membalas dendam."
Norman dengan ogah-ogahan setuju untuk mencoba melakukan eksperimen itu.
Setelah saya kembali mengunjungi rumah penjara ini dua minggu kemudian, saya hampir-hampir tidak mengenali Norman. Dia tampak penuh kedamaian, dan kerutan yang selalu tampak pada wajahnya kini telah lenyap. Dia memegangi sepucuk surat.
Dia mencoba membacakan surat kepada seluruh kelompok, tetapi menjadi terlalu emosional. Dia meminta saya membacakannya, yang saya lakukan dengan susah payah.
Setelah saya selesai membaca, saya meragukan apakah ada mata yang kering di dalam ruangan, termasuk mata saya sendiri. Saya masih ingat surat itu hampir-hampir kata per kata.
"Norman tersayang," surat ini dimulai."Kuharap semoga kau mau memaafkanku karena begitu lama aku tidak menulis surat kepadamu. Hal yang aneh terjadi beberapa hari yang lalu. Aku teringat kepada saat-saat bahagia yang kita rasakan bersama, dan aku dikuasai oleh rasa kasih kepadamu. Aku dan anak-anak menginginkan kau kembali dan kami menanti kedatanganmu."
Belum lama ini saya menerima surat lain dari Don, seorang bekas narapidana yang telah dibesarkan di lingkungan yang penuh kebencian. Dia sekarang sudah bebas selama beberapa tahun dan telah membeli rumah baru bagi keluarganya.
Dia menulis,
"Hanya setelah saya kembali memasuki lingkungan saya yang lama dan mencoba menjalin kembali hubungan dengan orang-orang di sekeliling sayalah perubahan pada diri saya mulai terasa. Saya tidak bisa lagi berhubungan dengan bekas teman-teman saya; kami sudah seperti orang-orang asing. Mereka kembali lagi ke kehidupan penuh kejahatan dan saya kembali kepada keluarga saya.
"Kebencian saya memasukkan saya ke penjara dan lenyapnya kebencian saya menyebabkan saya tetap berada di luar. Aneh sekali bagaimana orang selama hidupnya mencari sesuatu untuk membuat mereka bahagia kalau yang perlu mereka lakukan hanya mengenyahkan perasaan negatif dan mereka menemukan bahwa selama itu kebahagiaan sudah berada di dalam jangkauan mereka.
"Sekarang saya bisa melihat kebencian pada diri orang lain sama seperti Anda melihatnya pada diri saya beberapa tahun yang lalu di dalam lingkungan dinding Penjara Folsom (California) yang dingin itu. Anda benar ketika Anda mengatakan kepada saya bahwa saya harus memaafkan semua orang dan belajar mengasihi supaya bisa mengatasi kebencian saya."
"Kita memiliki Iman, Pengharapan dan Kasih. Dan yang terbesar di antara ketiganya adalah Kasih."




